Mengagumi saja sakit, apa kabar dengan suka ??
Menjadi
seorang yang munafik untuk diri sendiri mungkin terlihat salah dimata orang
lain, namuan ketika hal itu merupakan sesuatu yang bisa membuat tenang dan
tentunya bisa memberi kemanan untuk diri sendiri, why not ?.
Saat mulai mengagumi seseorang yang
tentunya mengenai identitasnya belum diketahui untuk lebih jauh tentunya adalah
hal yang biasa saja, namun lain halnya denganku. Jika menurut orang mengagumi
itu hal yang wajar, namun bagi ku itu adalah hal yang tidak wajar, karena jika
hal itu sudah ada pada otak saya maka itu akan menjadi suatu masalah yang
tentunya akan mencari jalan keluar untuk proses penyelesaiannya.
Menaruh hati untuk seseorang, bukan
melainkan menyukai seseorang yang tentunya tidak pantas untuk posisi itu,
apakah itu hal yang salah ?. Saat hati sudah memberi sinyal bahwa ia singgah
untuk mengintip lantas tinggal untuk beberapa waktu yang cukup lama.
Menyukai secara sepihak tentu itu
bukan perkara yang baik untuk orang yang mengalaminya, apa salah jika kita
menyukainya, tentu tidak, namun kita harus sadar akan posisi kita sedang berada
di mana. Okk artinya harus ada tindakan untuk memastikan posisi kita sebagai
pengagum. Namun setelah berselang waktu lantas kita tidak mendapatkan apa-apa
itu bukanlah masalah yang buruk tapi itu menjadi khayalan untuk seseorang
dengan semakin mengimpikan yang terindah untuknya. Namun ketika tanpa disengaja
sebuah informasi tentangnya datang,
tanpa permisi, tanpa ada tanda-tanda, ia lalu memberikan kabar bahwasanya orang
yang kita sukai bukanlah orang yang tepat, ketika kita hendak menaruh hati
padanya namun ia menaruh hati kepada yang lain, apa itu masih bisa disebut hal
yang wajar ?.
Mungkin bagi orang mencintai itu
tidak harus selalu bahagia, tidak harus selalu seirama, dan tentunya tidak harus
selalu terbalaskan. Lalu bagaimana dengan ia ?, ia yang tidak punya salah, yang
tidak tau apa-apa. Bahkan ia menyukainya bukan karena keinginannya, apa ia
harus memendam perasaannya ? apa ia harus terus bersandiwara dengan dunia nyata
yang harus ia jalani ? hidup memang tidak adil. Kadang diam memang lebih baik,
menyuarakan pun kadang sakit.
Tentunya ia hanya bisa terus diam,
diam dengan seribu bahasa, memendam amarah. Tak adilnya lagi meminta untuk
melupakannya pun tidak berpihak padanya. Lalu untuk apa ia terus mempunyai rasa
itu lantas itu hanya sepihak, untuk apa terus menyelimuti dirinya kagum namun
itu hanya sekedar tulisan. Mengagumi saja sakit, apa kabar dengan suka ?.
Komentar
Posting Komentar